Bambang Baskoro
Tiga puluh tahun umurnya. Matahari baru saja bilang halo saat Baskoro membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah kereta ekonomi. Baskoro masih saja bengong di bangkunya padahal kereta ekonomi itu sudah dua kali bolak balik Bogor, Depok, Sudirman, Tanah Abang.
“Saya ini orang DPR, kenapa ada di sini?!” Baskoro berteriak kencang saat seorang pemuda, yang ternyata bernama Syahrir, menegurnya.
“Saya ini Bambang Baskoro! Anak presiden!” Baskoro berteriak lagi dengan iringan berisik mesin kereta. Syahrir cuma memperhatikannya dengan bingung. Baskoro melihat pakaiannya. Tidak ada mirip-miripnya sama dirinya yang biasanya rapi dan perlente. Pakaian Baskoro kini lusuh dan lecek seperi uang seribuan. Ia pasti disangka orang gila.
“Saya tidur malam, dan bangun sudah di sini! Di kereta ekonomi ini! Ndak mungkin! ” Baskoro masih tidak percaya.
“Oh iya pak! Ini memang kereta mimpi!” Syahrir menjawab.
Baskoro tertegun. “Mimpi bagaimana?”
Syahrir tersenyum. “Tuh coba liat orang itu?”
Baskoro menoleh ke arah yang ditunjuk. Tampak seorang kakek pengemis yang sedang menyapu-nyapu lantai kereta api ekonomi sambil mengiba-ngiba kepada para penumpang yang acuh.
“Dia punya mimpi, kalau mati bisa reinkarnasi jadi anak orang kaya…”
Baskoro lalu mendengarkan Syahrir bercerita tentang mimpi-mimpi para penumpang kereta ekonomi. Mimpi si tukang buah, mimpi si tukang mijon, mimpi si tukang aqua, mimpi si SPG di ITC, mimpi si karyawan rendahan, mimpi si pengangguran, mimpi si komuter, mimpi si tukang copet, mimpi si pengamen radio, mimpi si pengamen gitar, mimpi si pengamen banci, mimpi si pengamen krecekan, mimpi si siswa bolos sekolah, mimpi si siwa putus sekolah, mimpi si anak kampus, mimpi si anak punk, mimpi si alay dahsyat, mimpi si tukang koran, mimpi si tukang mainan, mimpi si tukang jual apa saja yang penting halal, mimpi si pengemis patah kaki, mimpi si pengemis polio, mimpi si pengemis buta, mimpi si pengemis anak, mimpi si perantau, mimpi si kelaparan, mimpi si bau keringat, mimpi si belum mandi, mimpi si yang tidak dapat bangku, mimpi si yang capek berdiri, mimpi si yang gelantungan di pintu kereta, mimpi si ibu-ibu jilbab, mimpi si ibu-ibu arisan, mimpi si ibu hamil, mimpi si tua renta, mimpi si bayi yang menangis kepanasan.
Mimpi si kelas bawah terjajah untuk hidup indah, naik tingkat jadi kelas menengah ngehe atau bahkan jadi kelas atas bangsat.
Habis cubit-cubit tangan, Baskoro mencoba tidur kembali dan berharap semua kembali setelah ia terbangun nanti. Amit-amit Ia tidak ingin hidup di kereta ekonomi penuh mimpi ini. Baskoro gak tahu aja kalau harga BBM naik nanti, kereta ini akan semakin sesak dengan orang-orang baru dan mimpi-mimpi yang mati.