Delapan tahun umurnya, saat itu. Di suatu pagi saat uang lima ratus masih bisa beli macam-macam, Jaya bongkar-bongkar ulang tas sekolahnya yang sebelumnya terisi penuh dengan pakaian.
“Kenapa dibongkar lagi?” Tanya ibunya.
Jaya menunduk diam.
“Tidak jadi ikut karyawisata?”
Jaya menggeleng bisu.
Ibunya memandang, menunggu jawaban.
“Teman-teman semua pasti bawa tustel. Keluarga kita ndak punya tustel. Jaya kan juga mau foto-foto.”
Ibunya hanya merapikan kembali pakaian Jaya yang sudah diacak-acak.
***
Besoknya, ibunya pulang dari pasar membawa satu kantong kresek hitam putih. Untuk Jaya.
“Ini apa?” Jaya mengeluarkan buku agenda dan pulpen dari dalam kantong kresek.
“Ibu ndak punya uang untuk belikan kamu tustel. Jadi semua kenangan kamu, bahagia kamu, sedih kamu, marah kamu, tuliskan di buku ini. Fungsinya sama dengan foto nak, untuk menyimpan memori”
Jaya menggengam buku agenda itu erat, berjanji dalam hati akan selalu menyimpan semua memorinya tentang ibu.
Dua puluh enam tahun umurnya. Andare ketik-ketik email di komputer kantor.
One year from now, the shit I find so heartbreaking, won’t even matter anymore. One day happiness will find me, but I’ll remember you though, because I always remember everyone that leaves.
Send.
Mana yang lebih sakit: ditinggal putus pacar setelah 8 tahun pacaran atau ditinggal rusak laptop setelah 4 tahun berteman? Andare dua-duanya bulan ini. Cuma beda dua hari.
Pacar Andare putus aja untuk besoknya jadian sama perempuan yang lebih kaya, lebih Raisa, lebih S2, dan leukemia. Untuk yang terakhir Andare kalah telak. Ia tidak punya drama untuk dijual.
Laptop Andare hang total untuk kemudian mati tidak bisa nyala lagi. Entah karena apa, mungkin sudah renta. Laptop yang dulu dibeli untuk jadi teman Andare bikin skripsi. Skripsi yang di ucapan terima kasih nomor satu ada nama pacarnya yang eh kemudian ninggalin dia.
Tapi sudahlah biarlah. Waktu pacarnya minta maaf lalu minta putus, Andare cuma kasih laptopnya, sambil dingin bilang:
“Maybe you can’t fix my heart but at least you can fix my laptop.”
Empat puluh lima tahun umurnya. Punya barber shop kecil di pojokan pasar. Setiap hari pasien-pasien cukurnya ya pedagang-pedagang pasar beserta anak-anaknya. Sudah hampir seumurnya Hardi jadi tukang cukur. Bapaknya dulu juga tukang cukur level bawah pohon rindang.
Jadi tukang cukur itu tidaklah begitu menarik sebenarnya. Kalau ada yang datang tinggal tunjuk saja mau model rambut mana dari top collection berisi wajah-wajah bintang film asia yang sudah terpampang sejak tahun 90-an. Terus hasilnya ujung-ujungnya sama juga, pendekin depan belakang kiri kanan, atau cepak atau botak sekalian.
Yang menarik justru cerita-cerita dari para pelanggan setia. Akhir-akhir ini topik utama ya tentang Jokowi, banjir, Jakarta, narkoba, dan lagi-lagi tentang keluhan-keluhan menjadi rakyat kecil yang tidak pernah digubris negara, sama saja seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya, sama saja seperti model rambut mereka yang begitu-begitu saja.
Tapi minggu terakhir ada yang tidak begitu-begitu saja. Setelah menikah sekian lama, Hardi akhirnya dititipkan Allah seorang anak perempuan ayu bernama Jamila. Wajahnya mirip sekali Hardi, tapi Jamila wajahnya cantik. Putri paling cantik di dunia. Lebih cantik dari putri mana-mana. Hardi menggendong Jamila setiap pagi, setiap hari.
Hari ini Jamila dibinkan akikah, uangnya ambil dari tabungan serta pinjam dikit sana-sini. Satu ekor kambing sudah dipotong, semua doa-doa berbahasa arab itu dilafazkan, kini tinggal prosesi Jamila bayi siap digunting rambutnya. Hardi memegang gunting kecil di kanan dan doa yang besar di hati.
Semoga setiap kali potong rambut hingga dewasa nanti, Jamila selalu ingat bahwa bapak ibunya selalu sayang padanya.
Dua puluh enam umur yang satunya, dua puluh lima umur yang lainnya. Ini obrolan bangun tidur mereka.
“Jadi mau dibawa kemana hubungan kita?”
“Kayak lagu hahaha”
“Jadi…?”
“Seperti yang lo lihat sendiri lah, kerjaan gue serabutan cuma punya kostan pengap acak-acakan. Gak punya tabungan, tapi banyak tanggungan.”
“Makanya tiap ngedate kita cuma makan bakso di depan, terus nonton dvd bajakan di kamar berdua yah…”
“Iya, sama duduk-duduk lama-lama di Taman Suropati sambil makan kwaci.”
“Tapi lo sayang gak sama gue?”
“Mana berani gue kasih sayang sama lo.”
“Terus lo bisanya kasih gue apa?”
“Hmm.. kasih… bahan obrolan?”
“Jadi sampai tua kita gak usah nikah tapi ngobrol aja?”
“Nikah aja sama orang lain terus kita jadi selingkuhan ngobrol.”
“Gak happy ending dong yah…”
“Namanya juga manusia, sok-sokan aja pengen bahagia. Makanya film dibikin pas udah happy langsung end. Coba dilanjutin filmnya, pasti muter lagi jadi ga happy.”
“Konsepnya bahagia-selesai gitu?”
“Iya, kalau mau bahagia, harus end!”
“Jadi kalau udah bahagia, ya abis, selese, mati, die. Gitu?”
“Itu kesimpulan atau pertanyaan?”
“Pertanyaan. Kalau gak kejawab ya jadi kesimpulan.”
“Oke, berarti pertanyaan lo di awal tadi udah kejawab kalau gitu. Hehe.”
Dua puluh delapan tahun umurnya. “Tong Sampah” begitu ia sering dipanggil oleh teman-temannya sejak masa sekolah. Kenapa “Tong Sampah”? Wos Budi itu pemakan segala, sudah banyak kisah tentang hobinya yang dianggap orang malu-maluin itu.
Pernah saat SMA, di tengah gerimis malam minggu Wos makan nasi goreng sama si cinta pertama, sambil senyum-senyum lalu suap-suap mereka tatap-tatap mesra. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan datang saat seorang pelanggan lainnya pulang meninggalkan nasi goreng yang masih utuh cuma dimakan ayam dan bakosnya. Si cinta pertama kabur langsung minta pindah kelas esok harinya karena ilfil waktu Wos ambil piring nasi goreng itu lalu dilahapnya hingga licin tandas.
Waktu berjalan, kehilangan satu cewek diganti sama cewek-cewek diet yang semua sayang sama Wos. Setiap hari piring makan siang mereka didedikasikan ¾ nya untuk Wos. Tidak perlu ragu untuk ke warung masakan Padang, icip-icip sedikit rendang dengan kuah lalu kasih sisa nasi dan lauknya ke Wos. Kalau tidak suka brokoli atau cuma lapar mata, selalu ada Wos yang akan menghabiskan. Paket super besar KFC atau Chicken McD pakai nasi, tapi lupa bilang kalau nasinya walau sudah sekecil itu masih saja kebanyakan. Tapi tenang ada Wos yang makan. Bahkan setelah kerja dan punya gaji dua digit seperti sekarang, Wos tetap jadi Tong Sampah pelahap makanan sisa teman-temannya. Semua tertawa bernostalgia saat mereka bertemu Wos tak juga berubah tingkah lakunya.
Padahal teman-teman Wos itu yang tidak juga mengerti. Mungkin karena sudah tidak ada lagi anak muda yang punya cita-cita untuk jadi petani.
Delapan tahun umurnya. Hadiah juara kelas, tahun ini Camelia liburan tahun baru di Jakarta tinggal sama Uaknya. Pengalaman pertama Camelia berlibur ke Jakarta.
Sore terakhir 2012 ini, Camelia diajak Uaknya berbelanja serba-serbi perlengkapan pesta tahun baru. Begitu mobil mereka berhenti di bawah kolong jembatan layang karena lampu merah, beberapa orang anak kecil seumuran Camelia dan nenek-nenek mendekati mobil mereka.
“Itu siapa Uak?”
“Pengemis nak” Jawab Uaknya.
Camelia pun lalu mengeluarkan beberapa keping uang koin dari kantongnya, yang kemudian dilarang oleh Uaknya. “Kamu gak boleh kasih uang ke pengemis nak!”
Camelia menatap Uaknya dengan pandangan minta penjelasan. Namun Uaknya hanya diam di balik kursi setir. Lampu lalu lintas sebentar lagi berganti menjadi hijau. Para pengemis beranjak pergi meninggalkan mobil kecuali satu nenek kurus pengemis yang masih menunggu di samping kaca.
Camelia menatap nenek kurus pengemis itu, lalu menatap Uak-nya, lalu menatap lampu lalu lintas, lalu menatap Uak-nya lagi, lalu terakhir menatap nenek kurus pengemis lagi untuk kemudian membuka kaca jendela, memeluk si nenek kurus pengemis dan berbisik “Maaf nenek, aku tidak boleh kasih uang, tapi aku bisa kasih peluk. Selamat tahun baru.”
Dua puluh delapan tahun umurnya. Nyicil lemburan akhir tahun, Jumat itu Mutiara baru keluar kantor jam sebelas malam. Waktu layar komputernya sudah mati, lampu layar Iphonenya ganti menyala. Whatsapp dari Bowo, mantannya.
“Kamu masih di kantor?” Begitu tulisnya.
Masih. Ini baru mau balik. Send.
“Aku jemput kamu yah. Udah malam.” Balas Bowo lagi.
Gak usah. Ngerepotin. Bisa balik sendiri. Terima kasih. Send.
“Tapi Aku-nya udah keburu di lobby :)” Mutiara cuma bisa haaaaaappphhhhh tarik nafas panjang.
Sudah dua minggu Mutiara pisah dari Bowo. Alasannya klise, Mutiara belum mau nikah. Dua minggu ini juga sudah berkali-kali Bowo cari-cari alasan ketemu Mutiara. Sok-sok ngembaliin barang-barang lah, sok-sok tidak sengaja ketemu makan siang lah, sok-sok kasih kue buat nyokap lah, ujung-ujungnya Mutiara selalu mengelak, sampai hari ini.
Di mobil, Bowo menyetir sambil lirik-lirik Mutiara, berharap ada bahan bicara. Mutiara berlagak sibuk main-main iphone. Ngecek-ngecek Path habis itu main Icon Pop.
“Kok baru balik jam segini, Mut?”
“Kamu ngapain jemput aku jam segini, Bow?”
“Ya… udah malam. Bahaya kalau kamu balik sendirian.”
“Udah biasa deh balik jam segini.”
“Tapi kan…”
“Tapi hari ini mau nganterin aku balik, karena mau ngajak balikan?”
“Gak kok. Aku gak mau ngajak kamu balikan…”
Wajah Mutiara memerah tanda malu. Syukur gelap.
“Aku maunya pulang.” Lanjut Bowo lagi.
“Pulang?”
“Iya, seperti perantau pulang kampung, seperti gembala pulang kandang, seperti aku pulang ke kamu dan semoga kamu pulang ke aku. Bukan balik, dan bukan juga kembali, tapi pulang. Kita pulang.”
Enam tahun umurnya. Penghuni panti asuhan sejak lahir, setelah ia ditemukan di selokan mampet penuh sampah. Hari ini hari Natal, Puji sedih. Saat anak lain berkumpul dengan keluarganya di bawah indah pohon Natal, tidak ada yang jenguk Puji.
Dan tidak cuma Puji yang sedih karena sepi. Ada juga anak-anak panti lainnya, seperti Obre, yatim piatu tembak langsung dari pedalaman Kalimantan. Ada Kiki yang keluarganya meninggal semua karena kebakaran di bulan puasa kemarin. Ada Nilam yang dititipkan ibunya ke panti asuhan, lalu tidak pernah kembali lagi mengambilnya.
Hari ini hari Natal, dan mereka semua ditanya: Sinterklas itu siapa?
Nilam: “Sinterklas itu kakek-kakek yang bawa kado!”
Obre: “Sinterklas itu yang ketawanya hohohoho!“
Kiki: “Sinterklas itu… punya ibu gak?”
Puji: “Sinterklas itu kan gak ada.”
Sinterklas itu ada kok.
Pintu ruang aula panti asuhan tiba-tiba terbuka, dan para Sinterklas masuk. Ada Sinterklas Dedi, Sinterklas Udin, Sinterklas Ngatmi, Sinterklas Inah, Sinterklas Joko, Sinterklas Rudi, Sinterklas Ucok, dan Sinterklas lainnya. Mereka para penghuni panti jompo yang juga berbagi cerita sunyi yang sama dengan anak-anak panti asuhan.
Hari ini hari Natal. Anak-anak panti asuhan tidak lagi sendiri, karena ada penghuni panti jompo yang menemani. Hari ini hari Natal, mereka tertawa, bermain, bercerita, bernyanyi, makan kue dan buah, dan menghias pohon natal, semua bersama. Hari ini hari Natal, dan mereka berjanji untuk saling mengunjungi lagi. Hari ini hari Natal, dan Natal tidak lagi sepi.
Puji: “Aku gak punya bapak ibu, tapi aku punya banyak Sinterklas!”
Dua puluh delapan tahun umur si kakak, dan dua puluh empat tahun umur si adek.
“Ibu gimana?”
“Masih gak sadarkan diri kak.”
“Kata dokter apa?”
“Harus segera dioperasi tanggal 22 Desember”
“Biaya operasinya berapa?”
“Enam puluh juta…”
“Kamu punya uang?”
“Sudah habis semua. Kakak?”
“Ada sepuluh juta, buat uang gedung sekolah si Ardi, yang paling tua”
“Aku coba pinjam sama-sini dulu…”
…
“Dapat pinjemannya?”
“Cuma empat juta.”
“Jadi ibu gimana?
“Kita bawa pulang saja, gak usah dioperasi.”
“Berarti kita bunuh ibu?”
“Bukan dibunuh dek, diikhlaskan.”
“Itu dibunuh namanya Kakak!”
“Ya terus gimana… eh kamu mau kemana?”
“Mau shalat,”
“Terus kalau shalat ibu sembuh?”
“Ya gak tahu, cuma adek gak tahu mau minta tolong sama siapa lagi? Sama almarhum ayah? Sama orang kaya? Sama Presiden? Sama negara? Ya gak tahu, mungkin aja setelah shalat, ibu jadi mendadak sembuh, atau ada uang enam puluh juta tiba-tiba jatuh dari langit, atau ternyata ini cuma mimpi, atau adek jadi lebih ikhlas untuk ngelepasin ibu. Adek gak tahu…”
Dua puluh satu umurnya. Petugas loket parkir mobil di Sports Mall Kelapa Gading. Setiap hari hidup Karmin adalah: penumpang kasih karcis – “jadi semua sekian ribu” – penumpang kasih duit – “ini kembaliannya…” – palang terbuka, penumpang jalan pergi. Membosankan? Iya.
Tapi ada satu orang yang tidak bosan-bosan Karmin ketemu. Pemuda sipit, Avanza B 0810 BT. Setiap hari Senin-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu pulangnya jam delapan malam, kadang lewat sepuluh lima belas menit. Setiap pemuda sipit buka kaca jendela untuk bayar parkir, muka Karmin merah merona. Setiap pemuda sipit buka kaca jendela untuk bayar parkir, ada perempuan jutek duduk di sebelahnya. Pacaranya, sepertinya.
Namun seminggu ini beda. Tidak ada lagi pacar jutek di kursi penumpang. Karmin lalu memberanikan diri. “Hi…” begitu yang ia tulis di balik struk parkir, yang kemudian diserahkan bareng uang kembalian pada si pemuda sipit. Besoknya Karmin terima balasan karcis parkir bertuliskan “Halo, Salam kenal :)”. Begitulah seterusnya, mereka bercengkrama lewat karcis dan struk parkir. “Nama gue Eric” “Gue Karmin” “Blablabla” “Blablabla” “Sibuk?” “Makan yuk” “Kapan?” “Kamis” “08159637665”.
Kamis malam mereka makan lalu nongkrong sampai pagi di Sevel Eleven. Eric cerita semua tentang dirinya, dan tentang perempuan jutek yang ternyata sudah jadi mantan. Lalu mereka berbagi hal-hal bodoh, dan tertawa bego. Suatu yang sangat ahli Karmin lakukan.
“Gue lg betek :(” “Makan-makan lagi lah kita” “Maunya mabok…” “Yuk!”. Besok malamnya celoteh karcis dan struk parkir masih berlanjut. Eric sampai keluar masuk mall lima kali demi itu.
Dan mereka mabok malam itu. Malam dimana Karmin benar-benar menjadi umur 21 seharusnya: naif, berani, ceria, hura-hura, hahahaha syubidubidu tanpa pikiran makan apa besok? Sudah kirim uang untuk ibu bulan ini? Bagaimana tabungan masa depan? Terus karier mau dibawa kemana?
Sehabis mabok mereka bercinta, tidur, berpelukan, berpegangan tangan, dan bercinta lagi di besok pagi. Kejadian yang oleh Eric tidak pernah mau dibahas lagi.
Tapi Karminnya sudah kepalang suka, gimana? Ya sudah nikmati saja. Toh suka itu seperti labirin cerita. Buat apa mencari jalan keluar saat hati menikmati ketersesatan rasa?