May 28, 2012
Anissa Stefani

Delapan tahun umurnya. Hari ini, guru Bahasa Indonesianya yang pemalas mengharuskan para murid bercerita tentang apa saja di depan kelas. Saat tiba gilirannya, Stefani maju dengan percaya diri.

Ayahku pahlawan.

Walau bukan Superman, walau bukan Sudirman, tapi ayahku pahlawan. Super.

Ayahku mirip The Avenger. Pasukannya banyak. Temannya banyak. Ternyata superhero kalau berantem rame-rame.

Ayahku juga punya pimpinan. Ayah suka cerita kalau pimpinannya galak. Ternyata superhero juga punya bos.

Nah Ayah kerja dari Senin sampai Jumat. Tempat kerjanya banyak tergantung kejahatan ada dimana. Tiap hari beda. Kalau hari Jumat Ayah biasanya pulang bawa uang lebih banyak. Kalau hari libur ayah libur dan main sama aku di rumah.

Tapi.. ayah bukan polisi. Kata ayah polisi itu bodoh dan lemah. Ayah tidak takut sama polisi.

Mmmmm terus apa lagi yah…

Oh iya, beberapa minggu lalu katanya Jakarta mau didatengin setan perempuan. Bukan kuntilanak, bukan sundel bolong atau kalong wewek. Setan yang ini dari Amerika.

Aku takut. Yang namanya setan itu kan katanya seram. Tapi kata Ayah percaya saja sama Allah. Kita pasti dibela.

Alhamdulillah ada ayah dan pasukan pahlawannya. Akhirnya setan perempuan itu gak jadi datang. Negara kita jadi selamat!

Aku bangga sekali punya ayah, ayah.”

May 28, 2012
Merah Maghfira

Minta foto pussy kamu dong” begitu yang tertulis di layar BBM. Seseorang sedang horny parah rupanya. Merah lalu memasukan Blackberry ke balik roknya. Memotret celana dalam merahnya. 

Bungkusnya dulu ya Om… ;)”. SEND. “Aku masih di kelas,”  “sisanya nanti”. SEND. SEND.

Begitulah kejadiannya setiap hari sejak sebulan ini. Merah meladeni Om Anom, Semua bagian sudah pernah dia kasih lihat: paha, puting, tetek, lobang pantat, ketiak, jempol kaki, mata, hidung, gigi gingsul, lemak di perut.

Kapan nih aku bisa dapat foto telanjang kamu full? :(

Tapi aku jelek ah, nanti om ilfiel.

Gak kokkk, aku kan saaaaayaaaang kamu…

Merah tersenyum, lalu balas mengetik “Ketemuan aja gimana?” Senyum Merah berubah jadi tawa merekah begitu membaca balasannya.

Saat berumur delapan, Merah mendapati mayat kakak satu-satunya iris nadi di kamar mandi. Test pack dengan dua garis merah pelakunya. Semua histeris tapi Merah cuma diam. Ia berinvestasi dendam.

Siangnya Merah berbelanja habis-habisan. Dress merah seksi, Calvin Klein Forbidden Euphoria, stiletto 12 cm ujung runcing, borgol, lakban, pisau Victorinox, obat tidur, korek dan minyak tanah.

Malam ini ada yang akan mati, lalu terbakar habis besok pagi.

May 11, 2012
Yosef

Dua puluh tiga tahun umurnya. Satu dari sekian ratus pengamen di Jakarta. Lokasi ngamennya ganti-ganti karena belum ada yang pas di hati. Semua sampai dengan minggu lalu, saat Yosef mengamen di bus mayasari bakti AC 84 Pulo Gadung - Depok.

Hari itu, awalnya semua tampak biasa-biasa saja. Yosef memetik senar gitarnya dan memainkan lagu-lagu top 40. Semua penumpang bus tampak menikmati suara Yosef yang memang katanya merdu itu. Beberapa tertidur. Hanya satu yang memakai earphone dan mengacuhkan. Seorang perempuan yang justru sedari tadi menarik perhatian Yosef.

Perempuan earphone itu… manis sekali.

Besoknya dan besoknya dan besoknya lagi Yosef ketagihan ngamen di patas AC 84. Setiap hari jam 10 pagi si perempuan earphone itu naik dari Orion Rawamangun dan turun di Lenteng Agung. Sorenya perempuan earphone tidak pernah naik patas AC 84.

Yosef sudah coba berbagai cara untuk menarik perhatian si perempuan earphone itu. Yosef sudah coba semua trik mengamen, menyanyi lagu korea, membaca puisi, memainkan pianika, bahkan menirukan suara britney spears, tapi si perempuan earphone tetap setia dengan prinsipnya. Earphone terpasang di kuping, mengacuhkan Yosef.

Hari ini perempuan earphone itu kebablasan tidur. Yosef ingin membangunkan, tapi perempuan earphone itu jadi lebih manis saat ia menutup mata.

Saat hampir sampai di terminal Depok, perempuan earphone itu terbangun, dan panik! Yosef menghampiri perempuan earphone itu untuk setidaknya mencoba membantu, namun disambut dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti Yosef.

Yosef tersenyum. Ia jatuh cinta.

Perempuan earphone itu seorang tuna rungu. Dari sebelah earphone-nya yang terlepas, Yosef bisa mendengar lirik lagu The Beatles yang mengalun kencang, “Something in the way she moves attracts me like no other lovers…”. 

May 5, 2012
Mutia Martini

Empat puluh sembilan tahun umurnya. Setelah merantau tiga puluh tahun di Jakarta, Mutia pulang ke kampungnya, untuk menetap selamanya. Ia sudah terlalu lelah dengan Jakarta.

Kampung Mutia letaknya di pinggiran Sumatera. Tak usahlah disebut namanya, karena tidak berguna juga. Kampung yang masih hampir sama saat Mutia terakhir berkunjung ke sana. Masjid An Nur masih ada, rumah penduduk masih begitu-begitu saja. Tidak pernah terasa pembangunan rapelita atau rapelipuluh sekallipun.

Sampai di kampung, satu tempat yang langsung ditujunya. Rumahnya Dita, sahabatnya sejak  kecil. Dita yang tinggal sendiri karena anaknya semua di kota dan suaminya entah dimana. Seorang Dita yang ternyata sekarang terbaring tak berdaya di atas dipan karena sakit gula.

“Sebelum nanti mati, aku mau pergi…”

“Kemana Dit?”

“Ke puncak menara Masjid An-Nur…”

Sore itu juga terkabullah permintaan Dita. Dua tante-tante berjilbab di depan Masjid An Nur bersiap untuk menaiki menara: Mutia yang menggendong Dita di punggungnya.

“Tidak apa-apa Mut?”

“Aku sudah minta izin. Sebelum senja kita sudah di atas sana.”

Mutia berbohong. Ia belum minta izin. Kebetulan saja pintu menara tidak dikunci.

Perjalanan mereka berdua menaiki menara pun dimulai. Perjalanan yang terasa lama karena diisi cerita-cerita masa muda yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Tentang pak kiyai, tentang pesantren, tentang kenaifan masa muda dan ketakutan di hari tua. Dan juga tentang mimpi menaiki menara lalu menyerukan adzan saat sampai di atasnya.  

“Kamu capek? Udah gak kuat naik?” Dita memijit-mijit bahu Mutia, saat mereka beristirahat di tengah-tengah menara.

“Capek apa? Menaiki menara? Bermimpi? Bersahabat denganmu?” Mutia tersenyum.

“Lagipula kalau aku capek dan tidak kuat lagi, kamu juga tidak bakal bisa turun ke bawah loh…” Lanjut Mutia yang kontan membuat Dita tertawa. Ompong di gigi gerahamnya melambai senang.

Ternyata Mutia memang capek. Perjalanan menaiki ribuan anak tangga sambil menggendong seorang dewasa membuatnya tersengal-sengal mau pingsan rasanya.

Tapi begitu sampai di puncak menara, semua rasa mau pingsan itu perlahan hilang. Begini rupanya rasanya berada tinggi dan sendiri di atas. Banyak angin yang berhembus di sela-sela jilbab mereka yang sudah awut-awutan. Banyak sinar yang menghangatkan wajah berkeringat lelah.

“Mati itu seperti apa ya rasanya Mut…?” Mata Dita langsung dipenuhi air mata.

“Aku tidak mau mati dulu Mut, tidak ada siapa-siapa di sana. Kalau di sini ada kamu.”

Mutia memeluk erat sahabat terbaiknya itu.

April 27, 2012
Sabar

Enam puluh dua tahun umurnya. Dengan jaket parasut lusuhnya, Sabar memasuki sebuah gedung perkantoran di bilangan Gatot Subroto, naik lift ke lantai yang dituju, tiba di depan resepsionis, lalu menyerahkan satu kardus paket kiriman.

“Maaf mbak, di sini ada lowongan kerja gak?” Sabar bertanya.

“Buat bapak?” si resepsionis keheranan.

“Bukan, buat anak saya. Dia sarjana di UI.”

“Oh nanti coba saya tanyakan pak” si resepsionis menjawab dengan senyum basa-basi.

Malamnya, Sabar mengendarai motornya menyusuri jalanan Kasblanka yang masih saja macet. Sabar mengojek. Mengantar para mas-mas mbak-mbak kerah daki pulang ke tempat nyamannya.

“Kerja di mana mas?” Sabar memecah bisingnya macet

“Oh.. di bank Pak.” 

“Ada lowongan kerja gak mas? Buat anak saya.”

“Wah kalau itu baru aja tutup pak. Tahun depan baru buka lagi kayaknya”

Dan begitulah Sabar setiap harinya. Kurir barang di siang hari, dan tukang ojek di malam hari. Sabar bukan cuma cari upah tapi juga informasi lowongan kerja, untuk anaknya. Saat tubuh tuanya sudah lelah diterpa angin jalanan, barulah Sabar pulang.

Di rumah, balai-balai ruang tamu adalah singgasananya. Hingga menjelang subuh Sabar duduk-duduk hingga tertidur di sana. Beralaskan tikar, berbantalkan  sarung, dan berpeluk bingkai foto anak semata wayangnya yang delapan tahun lalu meninggal bunuh diri setelah di-PHK.

April 20, 2012
Farhat Abdul Halim

Lima tahun umurnya. Farhat suka sekali sama nama yang dikasih Abinya: kebahagiaan dari hamba Allah yang lemah lembut. Tapi ada hal lain yang lebih Farhat suka: jilbab Umminya.

Jilbab itu warna-warni, Farhat suka sekali. Setiap ummi berdandan mau pergi, Farhat setia menemani demi lihat Ummi pakai jilbab. Modelnya macam-macam. Ada yang langsung pakai, ada yang ribet harus pakai banyak peniti.    

Saat rumah kosong, Farhat suka curi-curi pakai jilbab punya Ummi. Kalau sudah pakai jilbab, Farhat lalu putar musik dan menari-nari ala bintang iklan shampo. Pakai jilbab itu rasanya seperti punya rambut panjang. Bisa dikibas-kibas dan bisa digerai hingga bahu.

Suati hari tingkah Farhat ketahuan sama Abinya. Langsung dimarahi dia, tapi untung ada Ummi. Setelah itu Farhat tidak boleh lagi main-main sama jilbab. Tapi tak mengapa. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada jilbab warna-warni, handuk mandi pun jadi pengganti. 

April 20, 2012
Surtini

Dua puluh delapan tahun umurnya. Surtini, mbak-mbak warteg di pojokan pasar Pademangan Barat. Setiap hari kerjanya sama: bangun pagi, nyuci, belanja, masak buat warteg, lalu malamnya nunggu suami pulang untuk ngeseks.

Dulu pas masih kecil, Surtini pernah punya cita-cita jadi gubernur Jakarta. Tapi baru juga mulai bermimpi, Surtini sudah dijegal laki-laki. Saat tangannya sudah bisa melingkari kepala sampai kuping, Surtini tetap tidak boleh sekolah, padahal semua kakaknya sudah pakai putih merah semua. Alasannya karena mereka kan laki-laki.

Beranjak dewasa semuanya tidak jauh beda. Saat era reformasi tiba. Saat semua orang muda di kampungnya sudah pergi ke Jakarta, dan bahkan kemana-mana, Surtini cuma bisa iri dari balik jendela. Di rumah saja jaga ibu bapak yang sudah tua. Alasannya karena kamu kan bukan laki-laki.

Setelah ibuk pergi selamanya, Surtini akhirnya boleh pergi ke Jakarta. Dengan catatan harus mau menikah dengan mas-mas pilihan bapaknya. Surtini setuju. Selaput dara perawan ia relakan demi angannya nginjak Jakarta. Bapak dan almarhum ibunya pun tenang melepasnya, sudah ada laki-laki yang jaga.

Dan jadilah seperti sekarang. Surtini hidup di Jakarta dengan segala ketidakpuasan akan masa lalunya. Tapi tak mengapa. Di warteg usahanya ini dialah penguasanya. Kalau yang makan perempuan, harganya ia murahkan. Setiap mas-mas yang protes kenapa harga makanannya lebih mahal, Surtini cuma sumringah menang dengan jawab: “karena kamu kan laki-laki!” 

April 10, 2012
Dety Suara Hati

Tiga puluh enam tahun umurnya. 

“Kita nikah yuk…”

Dety menoleh ke belakang dan mengenang Mas Rasyid. Laki-laki yang dikenalnya saat bermain ular naga panjangnya bukan kepalang, tiga puluh tahun yang lalu. Saat itu Dety berdiri di belakang mas Rasyid, memegang pundaknya, lalu berjalan beriringan hingga mereka dipisahkan saat salah seorang tertangkap.

Sejak saat itu Dety cuma bisa melihat pundak Mas Rasyid. Pundaknya saat berdiri di  shaf depan shalat tarawih bulan ramadhan. Pundaknya saat jadi pemimpin upacara di lapangan sekolah. Pundaknya di kuda-kudaan depan carrousel Dufan saat perpisahan sekolah. Pundaknya di barisan depan rombongan mahasiswa saat kampus mereka berdemonstrasi. Pundaknya memasuki pintu pesawat saat ia dapat beasiswa S2 ke Jerman. Terakhir kali Dety melihat pundak Mas Rasyid di hypermart dua tahun lalu. Saat Dety melihat Mas Rasyid membeli televisi, saat akhirnya mereka bertemu lagi.

Mas Rasyid selalu berada di depan, membelakangi Dety. Dan Dety selalu berusaha mengejar pundaknya, berharap suatu hari nanti bisa berjalan beriringan. Selamanya hingga hari ini, saat Dety akhirnya memutuskan untuk berhenti berlari.

“Kita nikah ya…”

Mendengar ajakan nikah itu diucapkan sekali lagi, Dety menggoreskan senyumnya yang paling tegar lalu mengangguk mengiyakan pinangan Dion, sahabat terbaiknya sejak kecil. 

April 5, 2012
Ngarti

Enam puluh tujuh tahun umurnya. Mencari kayu bakar di hutan pekerjaannya. Bukan, Ngarti bukan hidup di cerita dongeng atau apa pun yang pernah kita baca saat kecil. Ngarti nyata, senyata beban kayu bakar yang dipanggulnya setiap hari hingga tubuhnya bungkuk.

Ngarti tidak pernah mengeluh. Percayalah, ia berhati syukur. Setiap pagi ia bangun, mandi dinginnya air lembah, lalu mendaki gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di lereng dengan pemandangan indah, Ngarti menyusurinya bersama kupu-kupu bebas. Siang hari ia makan, bekal dan kadang buah-buahan secukupnya saja. Sorenya ia pulang, lalu besoknya ke pasar menjual kayu bakarnya. Hasilnya cuma sebanyak uang parkir satu jam mobil di mall Jakarta.

Sudah sejak lama Ngarti tinggal sendiri di pinggiran gunung tanpa suami, tanpa laki-laki, dan tanpa listrik. Malamnya dia isi dengan bercengkrama dengan sunyi. Kadang juga sama kunang-kunang saat bulan tidak terang. Sepi itu lampu disko, sendiri itu lantai dansa. Ngarti suka.

Hari ini beberapa orang yang katanya dari Jakarta datang. Mau bikin film dokumenter tentang Ngarti, tentang perempuan, tentang mimpi, tentang miskin, tentang penderitaan, dan tentang ketidakadilan. Ngarti tidak mengerti. Hidupnya yang sederhana ternyata bisa jadi cerita yang sempurna. Hidup yang kemudian dibuat film dengan penonton yang jadi punya pelampiasan rasa haru dan iba. Hiburan baru untuk kita-kita yang orang kota.

April 1, 2012
Bambang Baskoro

Tiga puluh tahun umurnya. Matahari baru saja bilang halo saat Baskoro membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah kereta ekonomi.  Baskoro masih saja bengong di bangkunya padahal kereta ekonomi itu sudah dua kali bolak balik Bogor, Depok, Sudirman, Tanah Abang.

“Saya ini orang DPR, kenapa ada di sini?!” Baskoro berteriak kencang saat seorang pemuda, yang ternyata bernama Syahrir, menegurnya.

“Saya ini Bambang Baskoro! Anak presiden!” Baskoro berteriak lagi dengan iringan berisik mesin kereta. Syahrir cuma memperhatikannya dengan bingung. Baskoro melihat pakaiannya. Tidak ada mirip-miripnya sama dirinya yang biasanya rapi dan perlente. Pakaian Baskoro kini lusuh dan lecek seperi uang seribuan. Ia pasti disangka orang gila.

“Saya tidur malam, dan bangun sudah di sini! Di kereta ekonomi ini! Ndak mungkin! ” Baskoro masih tidak percaya.

“Oh iya pak! Ini memang kereta mimpi!” Syahrir menjawab.

Baskoro tertegun. “Mimpi bagaimana?”

Syahrir tersenyum. “Tuh coba liat orang itu?”

Baskoro menoleh ke arah yang ditunjuk. Tampak seorang kakek pengemis yang sedang menyapu-nyapu lantai kereta api ekonomi sambil mengiba-ngiba kepada para penumpang yang acuh.

“Dia punya mimpi, kalau mati bisa reinkarnasi jadi anak orang kaya…”

Baskoro lalu mendengarkan Syahrir bercerita tentang mimpi-mimpi para penumpang kereta ekonomi. Mimpi si tukang buah, mimpi si tukang mijon, mimpi si tukang aqua, mimpi si SPG di ITC, mimpi si karyawan rendahan, mimpi si pengangguran, mimpi si komuter,  mimpi si tukang copet, mimpi si pengamen radio, mimpi si pengamen gitar, mimpi si pengamen banci, mimpi si pengamen krecekan, mimpi si siswa bolos sekolah, mimpi si siwa putus sekolah, mimpi si anak kampus, mimpi si anak punk, mimpi si alay dahsyat, mimpi si tukang koran, mimpi si tukang mainan, mimpi si tukang jual apa saja yang penting halal, mimpi si pengemis patah kaki, mimpi si pengemis polio, mimpi si pengemis buta, mimpi si pengemis anak, mimpi si perantau, mimpi si kelaparan, mimpi si bau keringat, mimpi si belum mandi, mimpi si yang tidak dapat bangku, mimpi si yang capek berdiri, mimpi si yang gelantungan di pintu kereta, mimpi si ibu-ibu jilbab, mimpi si ibu-ibu arisan, mimpi si ibu hamil, mimpi si tua renta, mimpi si bayi yang menangis kepanasan.

Mimpi si kelas bawah terjajah untuk hidup indah, naik tingkat jadi kelas menengah ngehe atau bahkan jadi kelas atas bangsat.

Habis cubit-cubit tangan, Baskoro mencoba tidur kembali dan berharap semua kembali setelah ia terbangun nanti. Amit-amit Ia tidak ingin hidup di kereta ekonomi penuh mimpi ini. Baskoro gak tahu aja kalau harga BBM naik nanti, kereta ini akan semakin sesak dengan orang-orang baru dan mimpi-mimpi yang mati.